Hetalia: Axis Powers - Greece

Rabu, 22 Oktober 2014



                   
                    SANDAL JEPIT

      “ Aku telah salah menilaimu, maksudku aku benar-benar salah menilaimu, kenapa justru kamu yang  menemuiku pada saat itu, kenapa bukan orang lain saja, tapi apalah dayaku,,,,sungguh  aku akan adukan kau ke pada- Nya, pada sang Kholik yang telah menciptakan kita, kelak,,, ketika aku di izinkan berbicara, tentang kita, tentang aku dan pria itu,,Sumadi”.

       Itu hari minggu yang kutunggu, hari dimana aku tak harus digantung seharian dalam plastik yang berdebu, bersama kawan-kawanku yang mempunyai harapan yang sama, namun akhirnya penantian panjang ini tidaklah sia-sia.
       Matanya  berbinar cemerlang ketika tangan legamnya menggapai dan menyentuh tubuhku, rasanya tak ada kebahagiaan lain di dunia ini selain pada saat itu, Sumadi pria setengah baya yang memilih ku bersamanya sampai aku rusak dan tiada.
     Semua sandal di dunia ini pasti mempunyai impian yang sama, yaitu memiliki pemakai yang menyayanginya, merawatnya,dan menggunakannya kemanapun dia pergi. Rasa bahagia ini seakan tak berujung ketika membayangkan bagaimana rasanya menjadi seonggok sandal sejati. Aku sadar sepenuhnya aku bukanlah sandal kelas elit, aku tak memiliki corak ukiran,renda berwarna emas ,atau gambar Shaun the sheep dalam tubuh ku, aku dilahirkan dengan wujud yang sederhana, tali merah jambu dan tubuhku yang putih semu, namun hari itu membuatku merasa sangat bersukur menjadi sandal sederhana, maaf maksudku ,,,” SANDAL JEPIT”.
      Sumadi selalu mengajakku kemanapun ia pergi,halam rumah, perumahan tetangga, toko sebrang jalan, dan warung gado-gado kesukaannya, aku akan selalu menyertainya, menjaganya dari duri dan kerikil jalanan, aku senang melakukannya,dan rasa cinta ini semakin menjadi saja setiap harinya, cinta padanya, Sumadi,,,aku telah menjadi sandal yang sempurna untukmu. Namun semua rasa kasih itu berubah ketika dia mengajakku ke suatu tempat, aku tak mengingat betul hari dan tanggalnya, yang kuingat hanya pagi buta dikala embun alam masih berserakan memenuhi udara pagi, dia seakan tergesah-gesah langkahnya setengah berlari aku hampir tidak bisa mengimbanginya, belum pernah selama bersamaku dia berjalan seperti ini sampai tubuhku seakan terasa sakit, aku di letakannya dengan posisi yang tidak beraturan di biarkannya tubuhku tergeletak disana, di tempat itu, sampai aku tak melihat kemana Sumadi melangkah meninggalkan ku, aku bergumam penuh tanya “mau kemanakah dia?”.
     “ Dia majikan mu,,?” suara sandal warna abu  membuyarkan lamunanku,sungguh aku tak menyadari kehadirannya yang pasti dia lebih dulu datang kesini bersama majikannya, “iya,,, kamu mengenalnya..?”,sandal itu terdiam sejanak membuka ingatannya “tentu saja,,Sumadi kan ?”, “ya betul dia majikanku, majikan yang baik,” sandal itu tersenyum miring, seperti senyum para penjahat yang berhasil menangkap mangsanya “aku lebih mengenalnya dari sebelum kau dilahirkan”,ucapnya tanpa jeda “benarkah..?” sungguh sebenarnya aku harus mengakuinya,dan tidak perlu memasang ekspresi kaget seperti itu, karena sandal abu ini memang berbeda jauh dariku, dia terbuat dari kulit dan terkenal di kalangan para sandal, sudah pasti umurnya pun sangat panjang,” sebetulnya aku sudah lama tak melihatnya, mungkin sekitar dua minggu yang lalu”,lanjutnya dengan nada yang agak turun, dan kembali melanjutkan “ tapi dulu bukan kamu yang menemaninya, kamu baru..?,”  ”oh iya,,iya,,aku baru, sekitar seminggu yang lalu,” lamunanku kembali di tengah-tengah perbincangan dengan si abu,kepalaku di penuhi berbagai pertanyaan, siapa sandal masa lalunya, dan tempat apa ini, apa yang akan sumadi lakukan sampai dia berjalan tergesa-gesa, “kamu tahu apa yang sumadi lakukan di tempat ini ?”, senyum miringnya kembali terlihat ketika pertanyaan ini keluar, ” MABUK”,,. ”apa..?”, “ya dia suka mabuk-mabukan, bermain wanita, berjudi di tempat ini, ” hati ini seperti tersayat ketika mendengar jawabannya, jawaban yang spontan dan tanpa pikir panjang, “kau yakin” aku melanjutkan, meski sebetulnya dada ini sangat sakit,” kenapa kamu kaget, dia sudah terbiasa melakukannya, tapi memang dua minggu ini aku tak melihatnya.” Sungguh aku tak mau lagi mendengarnya, sesak rasanya dada ini, hatiku remuk.
      Baru kali ini aku merasa menyesal tercipta sebagai seonggok sandal, sungguh aku salah menilainya, aku kira Sumadi pria yang baik, dan sialnya aku harus mengantarnya  ke tempat terkutuk itu, mengantarnya berbuat dosa, setiap hari setiap saat.



                                                                                                                            “Zam zam al-ghifary”
                                                                                                                             Darussalam,05 november 2013.



       


                   
                    SANDAL JEPIT

      “ Aku telah salah menilaimu, maksudku aku benar-benar salah menilaimu, kenapa justru kamu yang  menemuiku pada saat itu, kenapa bukan orang lain saja, tapi apalah dayaku,,,,sungguh  aku akan adukan kau ke pada- Nya, pada sang Kholik yang telah menciptakan kita, kelak,,, ketika aku di izinkan berbicara, tentang kita, tentang aku dan pria itu,,Sumadi”.

       Itu hari minggu yang kutunggu, hari dimana aku tak harus digantung seharian dalam plastik yang berdebu, bersama kawan-kawanku yang mempunyai harapan yang sama, namun akhirnya penantian panjang ini tidaklah sia-sia.
       Matanya  berbinar cemerlang ketika tangan legamnya menggapai dan menyentuh tubuhku, rasanya tak ada kebahagiaan lain di dunia ini selain pada saat itu, Sumadi pria setengah baya yang memilih ku bersamanya sampai aku rusak dan tiada.
     Semua sandal di dunia ini pasti mempunyai impian yang sama, yaitu memiliki pemakai yang menyayanginya, merawatnya,dan menggunakannya kemanapun dia pergi. Rasa bahagia ini seakan tak berujung ketika membayangkan bagaimana rasanya menjadi seonggok sandal sejati. Aku sadar sepenuhnya aku bukanlah sandal kelas elit, aku tak memiliki corak ukiran,renda berwarna emas ,atau gambar Shaun the sheep dalam tubuh ku, aku dilahirkan dengan wujud yang sederhana, tali merah jambu dan tubuhku yang putih semu, namun hari itu membuatku merasa sangat bersukur menjadi sandal sederhana, maaf maksudku ,,,” SANDAL JEPIT”.
      Sumadi selalu mengajakku kemanapun ia pergi,halam rumah, perumahan tetangga, toko sebrang jalan, dan warung gado-gado kesukaannya, aku akan selalu menyertainya, menjaganya dari duri dan kerikil jalanan, aku senang melakukannya,dan rasa cinta ini semakin menjadi saja setiap harinya, cinta padanya, Sumadi,,,aku telah menjadi sandal yang sempurna untukmu. Namun semua rasa kasih itu berubah ketika dia mengajakku ke suatu tempat, aku tak mengingat betul hari dan tanggalnya, yang kuingat hanya pagi buta dikala embun alam masih berserakan memenuhi udara pagi, dia seakan tergesah-gesah langkahnya setengah berlari aku hampir tidak bisa mengimbanginya, belum pernah selama bersamaku dia berjalan seperti ini sampai tubuhku seakan terasa sakit, aku di letakannya dengan posisi yang tidak beraturan di biarkannya tubuhku tergeletak disana, di tempat itu, sampai aku tak melihat kemana Sumadi melangkah meninggalkan ku, aku bergumam penuh tanya “mau kemanakah dia?”.
     “ Dia majikan mu,,?” suara sandal warna abu  membuyarkan lamunanku,sungguh aku tak menyadari kehadirannya yang pasti dia lebih dulu datang kesini bersama majikannya, “iya,,, kamu mengenalnya..?”,sandal itu terdiam sejanak membuka ingatannya “tentu saja,,Sumadi kan ?”, “ya betul dia majikanku, majikan yang baik,” sandal itu tersenyum miring, seperti senyum para penjahat yang berhasil menangkap mangsanya “aku lebih mengenalnya dari sebelum kau dilahirkan”,ucapnya tanpa jeda “benarkah..?” sungguh sebenarnya aku harus mengakuinya,dan tidak perlu memasang ekspresi kaget seperti itu, karena sandal abu ini memang berbeda jauh dariku, dia terbuat dari kulit dan terkenal di kalangan para sandal, sudah pasti umurnya pun sangat panjang,” sebetulnya aku sudah lama tak melihatnya, mungkin sekitar dua minggu yang lalu”,lanjutnya dengan nada yang agak turun, dan kembali melanjutkan “ tapi dulu bukan kamu yang menemaninya, kamu baru..?,”  ”oh iya,,iya,,aku baru, sekitar seminggu yang lalu,” lamunanku kembali di tengah-tengah perbincangan dengan si abu,kepalaku di penuhi berbagai pertanyaan, siapa sandal masa lalunya, dan tempat apa ini, apa yang akan sumadi lakukan sampai dia berjalan tergesa-gesa, “kamu tahu apa yang sumadi lakukan di tempat ini ?”, senyum miringnya kembali terlihat ketika pertanyaan ini keluar, ” MABUK”,,. ”apa..?”, “ya dia suka mabuk-mabukan, bermain wanita, berjudi di tempat ini, ” hati ini seperti tersayat ketika mendengar jawabannya, jawaban yang spontan dan tanpa pikir panjang, “kau yakin” aku melanjutkan, meski sebetulnya dada ini sangat sakit,” kenapa kamu kaget, dia sudah terbiasa melakukannya, tapi memang dua minggu ini aku tak melihatnya.” Sungguh aku tak mau lagi mendengarnya, sesak rasanya dada ini, hatiku remuk.
      Baru kali ini aku merasa menyesal tercipta sebagai seonggok sandal, sungguh aku salah menilainya, aku kira Sumadi pria yang baik, dan sialnya aku harus mengantarnya  ke tempat terkutuk itu, mengantarnya berbuat dosa, setiap hari setiap saat.



                                                                                                                            “Zam zam al-ghifary”
                                                                                                                             Darussalam,05 november 2013.



       


                   
                    SANDAL JEPIT

      “ Aku telah salah menilaimu, maksudku aku benar-benar salah menilaimu, kenapa justru kamu yang  menemuiku pada saat itu, kenapa bukan orang lain saja, tapi apalah dayaku,,,,sungguh  aku akan adukan kau ke pada- Nya, pada sang Kholik yang telah menciptakan kita, kelak,,, ketika aku di izinkan berbicara, tentang kita, tentang aku dan pria itu,,Sumadi”.

       Itu hari minggu yang kutunggu, hari dimana aku tak harus digantung seharian dalam plastik yang berdebu, bersama kawan-kawanku yang mempunyai harapan yang sama, namun akhirnya penantian panjang ini tidaklah sia-sia.
       Matanya  berbinar cemerlang ketika tangan legamnya menggapai dan menyentuh tubuhku, rasanya tak ada kebahagiaan lain di dunia ini selain pada saat itu, Sumadi pria setengah baya yang memilih ku bersamanya sampai aku rusak dan tiada.
     Semua sandal di dunia ini pasti mempunyai impian yang sama, yaitu memiliki pemakai yang menyayanginya, merawatnya,dan menggunakannya kemanapun dia pergi. Rasa bahagia ini seakan tak berujung ketika membayangkan bagaimana rasanya menjadi seonggok sandal sejati. Aku sadar sepenuhnya aku bukanlah sandal kelas elit, aku tak memiliki corak ukiran,renda berwarna emas ,atau gambar Shaun the sheep dalam tubuh ku, aku dilahirkan dengan wujud yang sederhana, tali merah jambu dan tubuhku yang putih semu, namun hari itu membuatku merasa sangat bersukur menjadi sandal sederhana, maaf maksudku ,,,” SANDAL JEPIT”.
      Sumadi selalu mengajakku kemanapun ia pergi,halam rumah, perumahan tetangga, toko sebrang jalan, dan warung gado-gado kesukaannya, aku akan selalu menyertainya, menjaganya dari duri dan kerikil jalanan, aku senang melakukannya,dan rasa cinta ini semakin menjadi saja setiap harinya, cinta padanya, Sumadi,,,aku telah menjadi sandal yang sempurna untukmu. Namun semua rasa kasih itu berubah ketika dia mengajakku ke suatu tempat, aku tak mengingat betul hari dan tanggalnya, yang kuingat hanya pagi buta dikala embun alam masih berserakan memenuhi udara pagi, dia seakan tergesah-gesah langkahnya setengah berlari aku hampir tidak bisa mengimbanginya, belum pernah selama bersamaku dia berjalan seperti ini sampai tubuhku seakan terasa sakit, aku di letakannya dengan posisi yang tidak beraturan di biarkannya tubuhku tergeletak disana, di tempat itu, sampai aku tak melihat kemana Sumadi melangkah meninggalkan ku, aku bergumam penuh tanya “mau kemanakah dia?”.
     “ Dia majikan mu,,?” suara sandal warna abu  membuyarkan lamunanku,sungguh aku tak menyadari kehadirannya yang pasti dia lebih dulu datang kesini bersama majikannya, “iya,,, kamu mengenalnya..?”,sandal itu terdiam sejanak membuka ingatannya “tentu saja,,Sumadi kan ?”, “ya betul dia majikanku, majikan yang baik,” sandal itu tersenyum miring, seperti senyum para penjahat yang berhasil menangkap mangsanya “aku lebih mengenalnya dari sebelum kau dilahirkan”,ucapnya tanpa jeda “benarkah..?” sungguh sebenarnya aku harus mengakuinya,dan tidak perlu memasang ekspresi kaget seperti itu, karena sandal abu ini memang berbeda jauh dariku, dia terbuat dari kulit dan terkenal di kalangan para sandal, sudah pasti umurnya pun sangat panjang,” sebetulnya aku sudah lama tak melihatnya, mungkin sekitar dua minggu yang lalu”,lanjutnya dengan nada yang agak turun, dan kembali melanjutkan “ tapi dulu bukan kamu yang menemaninya, kamu baru..?,”  ”oh iya,,iya,,aku baru, sekitar seminggu yang lalu,” lamunanku kembali di tengah-tengah perbincangan dengan si abu,kepalaku di penuhi berbagai pertanyaan, siapa sandal masa lalunya, dan tempat apa ini, apa yang akan sumadi lakukan sampai dia berjalan tergesa-gesa, “kamu tahu apa yang sumadi lakukan di tempat ini ?”, senyum miringnya kembali terlihat ketika pertanyaan ini keluar, ” MABUK”,,. ”apa..?”, “ya dia suka mabuk-mabukan, bermain wanita, berjudi di tempat ini, ” hati ini seperti tersayat ketika mendengar jawabannya, jawaban yang spontan dan tanpa pikir panjang, “kau yakin” aku melanjutkan, meski sebetulnya dada ini sangat sakit,” kenapa kamu kaget, dia sudah terbiasa melakukannya, tapi memang dua minggu ini aku tak melihatnya.” Sungguh aku tak mau lagi mendengarnya, sesak rasanya dada ini, hatiku remuk.
      Baru kali ini aku merasa menyesal tercipta sebagai seonggok sandal, sungguh aku salah menilainya, aku kira Sumadi pria yang baik, dan sialnya aku harus mengantarnya  ke tempat terkutuk itu, mengantarnya berbuat dosa, setiap hari setiap saat.



                                                                                                                            “Zam zam al-ghifary”
                                                                                                                             Darussalam,05 november 2013.