SANDAL JEPIT
“ Aku telah salah menilaimu, maksudku aku
benar-benar salah menilaimu, kenapa justru kamu yang menemuiku pada saat itu, kenapa bukan orang
lain saja, tapi apalah dayaku,,,,sungguh
aku akan adukan kau ke pada- Nya, pada sang Kholik yang telah
menciptakan kita, kelak,,, ketika aku di izinkan berbicara, tentang kita,
tentang aku dan pria itu,,Sumadi”.
Itu hari minggu yang kutunggu, hari dimana
aku tak harus digantung seharian dalam plastik yang berdebu, bersama
kawan-kawanku yang mempunyai harapan yang sama, namun akhirnya penantian
panjang ini tidaklah sia-sia.
Matanya berbinar cemerlang ketika tangan legamnya
menggapai dan menyentuh tubuhku, rasanya tak ada kebahagiaan lain di dunia ini
selain pada saat itu, Sumadi pria setengah baya yang memilih ku bersamanya
sampai aku rusak dan tiada.
Semua sandal di dunia ini pasti mempunyai
impian yang sama, yaitu memiliki pemakai yang menyayanginya, merawatnya,dan menggunakannya
kemanapun dia pergi. Rasa bahagia ini seakan tak berujung ketika membayangkan
bagaimana rasanya menjadi seonggok sandal sejati. Aku sadar sepenuhnya aku
bukanlah sandal kelas elit, aku tak memiliki corak ukiran,renda berwarna emas
,atau gambar Shaun the sheep dalam tubuh ku, aku dilahirkan dengan wujud yang
sederhana, tali merah jambu dan tubuhku yang putih semu, namun hari itu
membuatku merasa sangat bersukur menjadi sandal sederhana, maaf maksudku ,,,”
SANDAL JEPIT”.
Sumadi selalu mengajakku kemanapun ia
pergi,halam rumah, perumahan tetangga, toko sebrang jalan, dan warung gado-gado
kesukaannya, aku akan selalu menyertainya, menjaganya dari duri dan kerikil
jalanan, aku senang melakukannya,dan rasa cinta ini semakin menjadi saja setiap
harinya, cinta padanya, Sumadi,,,aku telah menjadi sandal yang sempurna untukmu.
Namun semua rasa kasih itu berubah ketika dia mengajakku ke suatu tempat, aku
tak mengingat betul hari dan tanggalnya, yang kuingat hanya pagi buta dikala
embun alam masih berserakan memenuhi udara pagi, dia seakan tergesah-gesah
langkahnya setengah berlari aku hampir tidak bisa mengimbanginya, belum pernah
selama bersamaku dia berjalan seperti ini sampai tubuhku seakan terasa sakit,
aku di letakannya dengan posisi yang tidak beraturan di biarkannya tubuhku
tergeletak disana, di tempat itu, sampai aku tak melihat kemana Sumadi
melangkah meninggalkan ku, aku bergumam penuh tanya “mau kemanakah dia?”.
“ Dia majikan mu,,?” suara sandal warna
abu membuyarkan lamunanku,sungguh aku
tak menyadari kehadirannya yang pasti dia lebih dulu datang kesini bersama
majikannya, “iya,,, kamu mengenalnya..?”,sandal itu terdiam sejanak membuka
ingatannya “tentu saja,,Sumadi kan ?”, “ya betul dia majikanku, majikan yang
baik,” sandal itu tersenyum miring, seperti senyum para penjahat yang berhasil
menangkap mangsanya “aku lebih mengenalnya dari sebelum kau dilahirkan”,ucapnya
tanpa jeda “benarkah..?” sungguh sebenarnya aku harus mengakuinya,dan tidak
perlu memasang ekspresi kaget seperti itu, karena sandal abu ini memang berbeda
jauh dariku, dia terbuat dari kulit dan terkenal di kalangan para sandal, sudah
pasti umurnya pun sangat panjang,” sebetulnya aku sudah lama tak melihatnya,
mungkin sekitar dua minggu yang lalu”,lanjutnya dengan nada yang agak turun,
dan kembali melanjutkan “ tapi dulu bukan kamu yang menemaninya, kamu baru..?,”
”oh iya,,iya,,aku baru, sekitar seminggu
yang lalu,” lamunanku kembali di tengah-tengah perbincangan dengan si
abu,kepalaku di penuhi berbagai pertanyaan, siapa sandal masa lalunya, dan
tempat apa ini, apa yang akan sumadi lakukan sampai dia berjalan tergesa-gesa,
“kamu tahu apa yang sumadi lakukan di tempat ini ?”, senyum miringnya kembali
terlihat ketika pertanyaan ini keluar, ” MABUK”,,. ”apa..?”, “ya dia suka
mabuk-mabukan, bermain wanita, berjudi di tempat ini, ” hati ini seperti
tersayat ketika mendengar jawabannya, jawaban yang spontan dan tanpa pikir
panjang, “kau yakin” aku melanjutkan, meski sebetulnya dada ini sangat sakit,”
kenapa kamu kaget, dia sudah terbiasa melakukannya, tapi memang dua minggu ini
aku tak melihatnya.” Sungguh aku tak mau lagi mendengarnya, sesak rasanya dada
ini, hatiku remuk.
Baru kali ini aku merasa menyesal tercipta
sebagai seonggok sandal, sungguh aku salah menilainya, aku kira Sumadi pria
yang baik, dan sialnya aku harus mengantarnya
ke tempat terkutuk itu, mengantarnya berbuat dosa, setiap hari setiap
saat.
“Zam zam al-ghifary”
Darussalam,05 november 2013.
SANDAL JEPIT
“ Aku telah salah menilaimu, maksudku aku
benar-benar salah menilaimu, kenapa justru kamu yang menemuiku pada saat itu, kenapa bukan orang
lain saja, tapi apalah dayaku,,,,sungguh
aku akan adukan kau ke pada- Nya, pada sang Kholik yang telah
menciptakan kita, kelak,,, ketika aku di izinkan berbicara, tentang kita,
tentang aku dan pria itu,,Sumadi”.
Itu hari minggu yang kutunggu, hari dimana
aku tak harus digantung seharian dalam plastik yang berdebu, bersama
kawan-kawanku yang mempunyai harapan yang sama, namun akhirnya penantian
panjang ini tidaklah sia-sia.
Matanya berbinar cemerlang ketika tangan legamnya
menggapai dan menyentuh tubuhku, rasanya tak ada kebahagiaan lain di dunia ini
selain pada saat itu, Sumadi pria setengah baya yang memilih ku bersamanya
sampai aku rusak dan tiada.
Semua sandal di dunia ini pasti mempunyai
impian yang sama, yaitu memiliki pemakai yang menyayanginya, merawatnya,dan menggunakannya
kemanapun dia pergi. Rasa bahagia ini seakan tak berujung ketika membayangkan
bagaimana rasanya menjadi seonggok sandal sejati. Aku sadar sepenuhnya aku
bukanlah sandal kelas elit, aku tak memiliki corak ukiran,renda berwarna emas
,atau gambar Shaun the sheep dalam tubuh ku, aku dilahirkan dengan wujud yang
sederhana, tali merah jambu dan tubuhku yang putih semu, namun hari itu
membuatku merasa sangat bersukur menjadi sandal sederhana, maaf maksudku ,,,”
SANDAL JEPIT”.
Sumadi selalu mengajakku kemanapun ia
pergi,halam rumah, perumahan tetangga, toko sebrang jalan, dan warung gado-gado
kesukaannya, aku akan selalu menyertainya, menjaganya dari duri dan kerikil
jalanan, aku senang melakukannya,dan rasa cinta ini semakin menjadi saja setiap
harinya, cinta padanya, Sumadi,,,aku telah menjadi sandal yang sempurna untukmu.
Namun semua rasa kasih itu berubah ketika dia mengajakku ke suatu tempat, aku
tak mengingat betul hari dan tanggalnya, yang kuingat hanya pagi buta dikala
embun alam masih berserakan memenuhi udara pagi, dia seakan tergesah-gesah
langkahnya setengah berlari aku hampir tidak bisa mengimbanginya, belum pernah
selama bersamaku dia berjalan seperti ini sampai tubuhku seakan terasa sakit,
aku di letakannya dengan posisi yang tidak beraturan di biarkannya tubuhku
tergeletak disana, di tempat itu, sampai aku tak melihat kemana Sumadi
melangkah meninggalkan ku, aku bergumam penuh tanya “mau kemanakah dia?”.
“ Dia majikan mu,,?” suara sandal warna
abu membuyarkan lamunanku,sungguh aku
tak menyadari kehadirannya yang pasti dia lebih dulu datang kesini bersama
majikannya, “iya,,, kamu mengenalnya..?”,sandal itu terdiam sejanak membuka
ingatannya “tentu saja,,Sumadi kan ?”, “ya betul dia majikanku, majikan yang
baik,” sandal itu tersenyum miring, seperti senyum para penjahat yang berhasil
menangkap mangsanya “aku lebih mengenalnya dari sebelum kau dilahirkan”,ucapnya
tanpa jeda “benarkah..?” sungguh sebenarnya aku harus mengakuinya,dan tidak
perlu memasang ekspresi kaget seperti itu, karena sandal abu ini memang berbeda
jauh dariku, dia terbuat dari kulit dan terkenal di kalangan para sandal, sudah
pasti umurnya pun sangat panjang,” sebetulnya aku sudah lama tak melihatnya,
mungkin sekitar dua minggu yang lalu”,lanjutnya dengan nada yang agak turun,
dan kembali melanjutkan “ tapi dulu bukan kamu yang menemaninya, kamu baru..?,”
”oh iya,,iya,,aku baru, sekitar seminggu
yang lalu,” lamunanku kembali di tengah-tengah perbincangan dengan si
abu,kepalaku di penuhi berbagai pertanyaan, siapa sandal masa lalunya, dan
tempat apa ini, apa yang akan sumadi lakukan sampai dia berjalan tergesa-gesa,
“kamu tahu apa yang sumadi lakukan di tempat ini ?”, senyum miringnya kembali
terlihat ketika pertanyaan ini keluar, ” MABUK”,,. ”apa..?”, “ya dia suka
mabuk-mabukan, bermain wanita, berjudi di tempat ini, ” hati ini seperti
tersayat ketika mendengar jawabannya, jawaban yang spontan dan tanpa pikir
panjang, “kau yakin” aku melanjutkan, meski sebetulnya dada ini sangat sakit,”
kenapa kamu kaget, dia sudah terbiasa melakukannya, tapi memang dua minggu ini
aku tak melihatnya.” Sungguh aku tak mau lagi mendengarnya, sesak rasanya dada
ini, hatiku remuk.
Baru kali ini aku merasa menyesal tercipta
sebagai seonggok sandal, sungguh aku salah menilainya, aku kira Sumadi pria
yang baik, dan sialnya aku harus mengantarnya
ke tempat terkutuk itu, mengantarnya berbuat dosa, setiap hari setiap
saat.
“Zam zam al-ghifary”
Darussalam,05 november 2013.
SANDAL JEPIT
“ Aku telah salah menilaimu, maksudku aku
benar-benar salah menilaimu, kenapa justru kamu yang menemuiku pada saat itu, kenapa bukan orang
lain saja, tapi apalah dayaku,,,,sungguh
aku akan adukan kau ke pada- Nya, pada sang Kholik yang telah
menciptakan kita, kelak,,, ketika aku di izinkan berbicara, tentang kita,
tentang aku dan pria itu,,Sumadi”.
Itu hari minggu yang kutunggu, hari dimana
aku tak harus digantung seharian dalam plastik yang berdebu, bersama
kawan-kawanku yang mempunyai harapan yang sama, namun akhirnya penantian
panjang ini tidaklah sia-sia.
Matanya berbinar cemerlang ketika tangan legamnya
menggapai dan menyentuh tubuhku, rasanya tak ada kebahagiaan lain di dunia ini
selain pada saat itu, Sumadi pria setengah baya yang memilih ku bersamanya
sampai aku rusak dan tiada.
Semua sandal di dunia ini pasti mempunyai
impian yang sama, yaitu memiliki pemakai yang menyayanginya, merawatnya,dan menggunakannya
kemanapun dia pergi. Rasa bahagia ini seakan tak berujung ketika membayangkan
bagaimana rasanya menjadi seonggok sandal sejati. Aku sadar sepenuhnya aku
bukanlah sandal kelas elit, aku tak memiliki corak ukiran,renda berwarna emas
,atau gambar Shaun the sheep dalam tubuh ku, aku dilahirkan dengan wujud yang
sederhana, tali merah jambu dan tubuhku yang putih semu, namun hari itu
membuatku merasa sangat bersukur menjadi sandal sederhana, maaf maksudku ,,,”
SANDAL JEPIT”.
Sumadi selalu mengajakku kemanapun ia
pergi,halam rumah, perumahan tetangga, toko sebrang jalan, dan warung gado-gado
kesukaannya, aku akan selalu menyertainya, menjaganya dari duri dan kerikil
jalanan, aku senang melakukannya,dan rasa cinta ini semakin menjadi saja setiap
harinya, cinta padanya, Sumadi,,,aku telah menjadi sandal yang sempurna untukmu.
Namun semua rasa kasih itu berubah ketika dia mengajakku ke suatu tempat, aku
tak mengingat betul hari dan tanggalnya, yang kuingat hanya pagi buta dikala
embun alam masih berserakan memenuhi udara pagi, dia seakan tergesah-gesah
langkahnya setengah berlari aku hampir tidak bisa mengimbanginya, belum pernah
selama bersamaku dia berjalan seperti ini sampai tubuhku seakan terasa sakit,
aku di letakannya dengan posisi yang tidak beraturan di biarkannya tubuhku
tergeletak disana, di tempat itu, sampai aku tak melihat kemana Sumadi
melangkah meninggalkan ku, aku bergumam penuh tanya “mau kemanakah dia?”.
“ Dia majikan mu,,?” suara sandal warna
abu membuyarkan lamunanku,sungguh aku
tak menyadari kehadirannya yang pasti dia lebih dulu datang kesini bersama
majikannya, “iya,,, kamu mengenalnya..?”,sandal itu terdiam sejanak membuka
ingatannya “tentu saja,,Sumadi kan ?”, “ya betul dia majikanku, majikan yang
baik,” sandal itu tersenyum miring, seperti senyum para penjahat yang berhasil
menangkap mangsanya “aku lebih mengenalnya dari sebelum kau dilahirkan”,ucapnya
tanpa jeda “benarkah..?” sungguh sebenarnya aku harus mengakuinya,dan tidak
perlu memasang ekspresi kaget seperti itu, karena sandal abu ini memang berbeda
jauh dariku, dia terbuat dari kulit dan terkenal di kalangan para sandal, sudah
pasti umurnya pun sangat panjang,” sebetulnya aku sudah lama tak melihatnya,
mungkin sekitar dua minggu yang lalu”,lanjutnya dengan nada yang agak turun,
dan kembali melanjutkan “ tapi dulu bukan kamu yang menemaninya, kamu baru..?,”
”oh iya,,iya,,aku baru, sekitar seminggu
yang lalu,” lamunanku kembali di tengah-tengah perbincangan dengan si
abu,kepalaku di penuhi berbagai pertanyaan, siapa sandal masa lalunya, dan
tempat apa ini, apa yang akan sumadi lakukan sampai dia berjalan tergesa-gesa,
“kamu tahu apa yang sumadi lakukan di tempat ini ?”, senyum miringnya kembali
terlihat ketika pertanyaan ini keluar, ” MABUK”,,. ”apa..?”, “ya dia suka
mabuk-mabukan, bermain wanita, berjudi di tempat ini, ” hati ini seperti
tersayat ketika mendengar jawabannya, jawaban yang spontan dan tanpa pikir
panjang, “kau yakin” aku melanjutkan, meski sebetulnya dada ini sangat sakit,”
kenapa kamu kaget, dia sudah terbiasa melakukannya, tapi memang dua minggu ini
aku tak melihatnya.” Sungguh aku tak mau lagi mendengarnya, sesak rasanya dada
ini, hatiku remuk.
Baru kali ini aku merasa menyesal tercipta
sebagai seonggok sandal, sungguh aku salah menilainya, aku kira Sumadi pria
yang baik, dan sialnya aku harus mengantarnya
ke tempat terkutuk itu, mengantarnya berbuat dosa, setiap hari setiap
saat.
“Zam zam al-ghifary”
Darussalam,05 november 2013.
